Belukar itu Tumbuh Subur di Halaman
Tunas kecil itu tumbuh tepat di samping pintu keluar pagar rumah. Aku membiarkannya tumbuh berharap mendapatkan tanaman yang dapat menyejukan suasana rumah kelak.
Daun kecil berbulu halus pecah di ujung tunas, jenis daunnya menyerupa tanaman terung. Amboy alangkah senangnya kalau itu benar terung.
Dari hari ke hari, tanaman itu semakin membesar. Daunnya semakin banyak dan sama persis dengan daun terung. Lebat dan menutupi pagar rumah. Beberapa tangkai yang menjulur ke pintu pagar aku pangkas hingga tak mengganggu jalan keluar masuk ke rumah.
Semakin lama, batang pohonnya semakin besar hampir seukuran ibu jari. Rantingnya menjulur ke mana-mana. Jelas itu bukan pohon terung, karena sudah melalui masa berbuah untuk ukuran usia tanaman terung.
Niatku untuk memangkas dahan utamanya terhalang oleh istriku, yang sayang jika harus membuang tanaman yang sudah tumbuh dan mempunyai daun lebat. Aku mengiyakan, dan hanya memangkas beberapa ranting yang memang mengganggu.
Belakangan tumbuhan itu semakin tinggi, dahannya yang keras mengganggu jalan keluar masuk kami dari rumah. Aku hanya diam, ketika istriku mencegah aku untuk memangkasnya habis. Hanya karena tanaman tak seharunya kami saling mendiamkan atau saling berseteru.
Istriku kelihatan sangat sayang hingga jika tak sengaja anak-anak yang lewat mematahkan ranting kecil sekalipun, ia akan marah besar.
Kini tumbuhan itu semakin membesar dan menutupi pandangan dari jalan ke rumah. Bukan terung, hanya belukar yang terpisah dari rumpunnya. Memangkasnya akan membuat aku bertengkar dengan istriku, membiarkannya mengganggu rumah.
Tumbuhan itu seperti memanfaatkan perasaan istriku, yang sudah terlanjur sayang.

Komentar
Posting Komentar